Memilih Presiden RI 2009 dengan AHP & Expert Choice


Judul lengkap:
Pendekatan Kuantitatif dalam Pemilihan Keputusan

Studi Kasus Penggunaan metode Analytic Hierarchy Process dengan Software Expert Choice dalam membantu memilih Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden Indonesia 2009-2014 (cem judul TA aja :P )

Latar belakang

Pemilu Presiden RI 2009 akan dilakukan Hari Rabu tanggal 8 Juli 2009. Udah pade punya pilihan belon? ada yang masih bingung? Ada yang masih mikir tiga-tiganya atau dua diantara tiga itu sama jeleknya, yang satu jelek di A, yang satunya jelek di C, yang nulis ini ganteng dll. Yang satunya bagus di alfa, beta, gamma, delta,, yang satunya bagus di zeta aja, tapi zeta jauh lebih penting dibanding alfa, beta, dan gamma. Email-email & diskusi di milis-milis cuma membandingkan beberapa kriteria saja: si A lebih baik dari B dan C di bagian anu, si B bagus di bagian itu, dst, tapi ga ada email yang memberikan penilaian keseluruhan kriteria dan pasangan secara terintegrasi. Kalo masih bingung nentuin pilihan, pake AHP aja!

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu tools sistem pendukung keputusan (SPK) yang dikembangkan pada tahun 1970an oleh pak ….  siapa ya? Bukan saya yang jelas :D . AHP dirancang mengikuti pola pikir rasional manusia dengan pendekatan kualitatif juga kuantitatif. Pada pengambilan keputusan yang rumit, dilakukan serangkaian perbandingan berpasangan sehingga menjadi lebih mudah. Lalu secara terstruktur nilai dari perbandingan berpasangan tadi disintesa sehingga dapat diambil kesimpulan tertentu.

Secara ringkas, AHP terdiri dari 3 fase: dekomposisi, comparative judgement, & sintesa. AHP melakukan perbandingan secara perlahan antar setiap karakter juga antara setiap alternatif, lalu dikalkulasi sedemikian rupa sehingga kita akan mendapatkan prioritas pilihan kita.

Berikut akan dijelaskan contoh memakai AHP. Oia, kalau software Expert Choice itu ialah salah satu software buat membantu memakai AHP ini. Jadi kita ga perlu repot-repot ngitung manual. Sebenernya pake Ms Excel juga bisa, tapi karena udah ada yang lebih praktis yaa kita pake aja. Kali ini pakai Expert Choice v11

Tahap I: tentukan tujuan: keputusan apa yang ingin diambil

Ini mah udah pasti. Mau ngambil keputusan masa’ ga punya tujuan. Tujuan kita kali ini ialah : Memilih Presiden RI 2009-2014 (biar lebih singkat jadi : Capres Pilihan)

Tahap II: menentukan alternatif keputusan

Alternatifnya ada 3 pasangan Capres/Cawapres:

  1. Mega-Pro (Megawati Soekarno Putri – Prabowo Subianto)
  2. SBY-NO (Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono)
  3. JK-Win (M. Jusuf Kalla – Wiranto)

Tahap III: tentukan kriteria yang ingin dipertimbangkan

Kriteria ditentukan sesuai keinginan kita. Semakin banyak semakin baik hasil analisisnya, tapi semakin buanyak perhitungannya. Kata “buanyak” disini mengikuti grafik eksponensial. Biar ga terlalu banyak, kita pake 7 kriteria aja (nb: untuk contoh yang ini ga pake hirarki biar simpel)

Kriteria:

  1. Kampanye >>> segala sesuatu yang berhubungan dengan marketisasi pasangan: baik buruknya penyampaian iklan di berbagai media (TV, spanduk, dll), penggunaan visualisasi, cara menampilkan iklan, kata-kata mutiara pada iklan, testimoni pada iklan, gambar yang “merakyat”, cara menyindir yang halus lewat iklan, dll. Kampanye merupakan hal yang cukup penting yang dipertimbangkan, karena mencerminkan kreativitas serta keunikan calon, serta bagaimana cara komunikasi tim pemenangannya.
  2. Partai koalisi >>> ini merupakan faktor yang amat penting dan ga bisa dianggap remeh. Seorang pemimpin baik tapi diikuti oleh orang-orang yang ga baik maka akan menjadi sistem yang ga baik pula. Banyak orang yang “buta” hanya ingin melihat pimpinan saja tanpa mempertimbangkan parta mana yang mendukungnya. Padahal orang-orang yang akan bekerja di bawah Presiden nanti sebagian besarnya akan berasal dari parpol koalisinya. Going it alone is not a leader. Leader work by it’s team, it called team work!
  3. Visi Misi Proker >>> ini hal yang sulit dibandingkan, karena semua bisa saja mengklaim bahwa programnya ialah yang terbaik. Tapi khan kita ga bisa tahu sampai program itu terlaksana, bahkan program yang sudah pernah dilakukan pun terkadang butuh evaluasi yang belum bisa kita nilai pada saat ini. Yang bisa kita lihat untuk memperhitungkan hal ini ialah melalui debat capres/cawapres yang ditayangkan di televisi kesayangan anda.
  4. Kepemimpinan & Karakter >>> leadership, nasionalisme, keberanian, tegas, jujur, anti korupsi, ga ragu-ragu, percaya diri, ganteng, komunikasi personal, penampilan, cinta lingkungan, dan berbagai karakter personal lain
  5. Kesolehan >>> makin soleh si calon makin tokcer. Ini penting agar kepemimpinannya dapet ridho Allah SWT. Amin ya robbal alamin.
  6. Prestasi >>> prestasi masa lalu ketika capres/cawapres mendapat amanah tertentu perlu dipertimbangkan. Prestasi yang baik bisa jadi pertimbangan positif, prestasi yang buruk dijadikan pelajaran dan juga pertimbangan
  7. Background pendidikan/pekerjaan >>> hal ini dapat menentukan performance capres/cawapres kita nanti. Dengan melihat masa lalunya, kita juga bisa tahu letak keunggulan/kepintaran/keahlian seorang capres/cawapres. Juga bisa tahu yang mana yang memihak rakyat kecil.

Udah cukup tujuh aja ya. Kalo kebanyakan bisa mumet nanti waktu ngitung. Lagipula sepertinya ketujuh kriteria di atas sudah dapat mewakili. Karena fase berikutnya ialah melakukan perbandingan one-to-one baik antar kriteria, juga antar pasangan di tiap kriteria

Tahap IV: membandingkan pasangan capres/cawapres di tiap kriteria

Pada tahap ini, ketiga pasangan calon dibandingkan di tiap kriteria. List yang harus dibandingkan ada 21 kali, yaitu sebagai berikut:

Ambil contoh aja ya, karena banyak banget kalo kudu diposting di satu post ini semuanya.

Contoh yang ini menunjukkan kalo partai koalisinya SBY jauh lebih baik dibanding megapro. Sampai dikasih poin 6. Off course pertimbangannya pasangan yang didukung sama partai reformis plus koalisi partai islam jauh lebih baik dibanding partai moncong putih. Walaupun ada sedikit poin plus bagi MegaPro karena ada Gerindra.

Kalo yang ini menunjukkan bahwa karakter kepemimpinan JK Win lebih baik dibanding SBY-No. Tapi dikasih poin 3 karena ga terlalu signifikan bedanya. Masing-masing pasangan ini punya karakter yang khas yang tidak dimiliki pasangan lawannya. SBY yang berwibawa, JK yang cepat, Wiranto yang memakai hati nurani, Boediono yang sederhana, dst.

Setelah semua calon pada tiap kriteria diperbandingkan, maka perbandingannya akan seperti gambar di awal postingan atau seperti berikut

[cara ngebaca gambar di atas: kalo angkanya warna merah, itu berarti membandingkan si”horizontal” lebih baik dibanding si “vertikal”. Kalo angka warna hitam, berarti membandingkan si “vertikal”(kolom) itu lebih baik sekian X poin dibanding si “horizontal”(baris)]

Kita lihat bahwa JK-Win dapat unggul di 4 kriteria, sedangkan SBY-No unggul di 3 kriteria lain, Mega Pro ga unggul dimana-mana (udah mulai keliatan siapa yang GA DIPILIH). Di sini kita juga sudah melihat bahwa Mega Pro tak mengungguli pasangan SBY-No di kriteria mana pun. Tapi ini masih belum selesai, karena kriteria-kriterianya juga perlu diberi bobot

Tahap V : membandingkan kriteria

Tahap ini untuk menentukan seberapa pentingkah suatu kriteria dibanding kriteria yang lain. Metodenya masih sama yaitu membandingkan tiap dua kriteria. Hasil yang saya dapat seperti berikut:

Cara ngebacanya: angka yang hitam menunjukkan nilai perbandingan dari yang vertikal dengan yang horizontal. Kalo angkanya merah menunjukkan nilai perbandingan yang horizontal dengan yang vertikal.

Misal pada gambar di atas: angka 4.0 berwarna hitam, itu berarti menunjukkan nilai perbandingan partai koalisi lebih penting daripada kesolehan dan punya skor 4.

Tahap VI: Sintesa & Kesimpulan

Sintesa akan mengkalkulasi bobot kriteria yang didapat dari tahap V dengan skor calon di tiap kriteria (tahap IV).

Kalo pake software AHP, udah langsung dapet hasilnya. Sebagai berikut:

Ternyata SBY-NO sekarang lebih unggul. Makanya, contreng nomor 2. Hohohoho :D

Beberapa catatan :

-         Contoh yang ini merupakan contoh subjektif dari dhimas yang ganteng. Bisa jadi orang lain mendapat hasil berbeda.

-         Screen shot diambil ketika AHP sudah sempurna, jadi kalo di tahap awal ada gambar dengan data yang aneh mohon dimaklumi :)

-         Perbedaan hasil akan semakin besar terutama karena perbandingan kriteria. Pada contoh seperti ini, pembandingan kriteria sangat berhubungan dengan belief & value masing-masing orang

-         Nilai overall inkonsistensi (dihitung dengan rumus yang tidak perlu dijelaskan di sini) yang saya dapat sebesar 0,00352 merupakan nilai yang sangat kecil. Itu berarti cara judgement saya sudah cukup baik. Makanya ikuti hasilnya dengan mencontreng nomor 2 :D

-         Selamat memilih dengan cerdas. Pilihlah dengan tegas sesuai hati nurani dan sesuai perhitungan AHP ini :D

-         Satu lagi, sebenernya saya mendukung JK untuk mengurus mesjid di kampungnya. Makanya pilih SBY!

Posted in opinion Tagged: AHP, boediono, dss, expert choice, JK, mega, pemilu, pilpres, prabowo, sby, wiranto

Mengejar Beasiswa (6) : AYF dan FCS

Lanjutan dari cerita sebelumnya. Dua beasiswa ini aku kejar saat aku menjelang resign dari kantor, yaitu bulan Oktober. Asian Youth Fellowship (AYF) adalah beasiswa untuk belajar ke Jepang. Kalau aku dapat AYF, aku akan diberi kursus bahasa Jepang selama satu semester di Kyoto, Jepang. Sambil belajar bahasa Jepang, aku mempersiapkan diri untuk tes masuk universitas. Lalu [...]

Mengejar Beasiswa (5) : Max Planck Institute of Economics

Ini kisah lanjutan dari sebelumnya. Info ini aku dapat dari milis Beasiswa@YahooGroups.Com. Disitu ada tawaran menarik untuk riset tentang ekonomi di Max-Planck-Institut für Ökonomik (Max Planck Institute of Economics). Lembaga ini dikelola University of Jena, Jerman. Aku termasuk nekat apply program ini. Asal tahu saja, ini program PhD. Padahal aku baru lulus sarjana. Mengapa aku nekat apply? [...]

Mengapa Harus Menulis?


ngeblogMengapa kita harus menulis? Setiap orang punya alasan. Jadi, banyak orang, banyak  alasan :D .

1. Menulis sama dengan mengukir sejarah

Pernyataan di atas adalah fakta yang tidak bisa diganggu gugat. Apa istilah untuk masa sebelum manusia mengenal tulisan? Jawabannya prasejarah bukan :D ? Nah, kalau kita menulis berarti kita sedang mengukir sejarah. Akhirnya di kemudian hari orang lain (mungkin anak cucu) bisa melihat apa yang pernah kita tulis. Kalau beruntung mereka bisa mengetahui kejadian-kejadian masa lalu dari tulisan kita.

2. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya

Seorang ilmuwan* abad ketujuh masehi mengatakan ini sebagai nasihat kepada sahabatnya. Menurut sang ilmuwan, ilmu akan lebih hidup, kuat, bertahan lama, dan lebih mudah tersebar apabila dituliskan. Benar bukan? Google pun menerapkan prinsip ini. Dia turut ‘menyebarkan’ ilmu yang tertulis. Bahkan google juga ‘menulis’ hasil crawling setiap satu periode sekali agar proses pencarian lebih cepat, kita mengenalnya dengan istilah indexing.

3. Menulis mirip dengan multilevel marketing

Bayangkan betapa banyak pengetahuan dan karya-karya baru terinspirasi dari tulisan-tulisan yang ditulis oleh para pendahulu. Karena tulisannya berhasil menginspirasi, penulis tersebut bisa dapat pahala. Si A menulis buku, bukunya di baca si B. Si B menghasilkan karya karena terinspirasi tulisan A lalu B mendokumentasikan karyanya. Dokumentasi B dibaca oleh C lalu diajarkan kepada 10.000.000 murid C. Ternyata 1% murid C mengembangkan karya B berdasarkan dokumentasi tersebut dan jadilah 100.000 karya baru. Berapa banyak pahala yang bisa didapat si A sekarang?

4. Karena tak semua kata bisa diucapkan

Yang pernah menulis surat cinta pasti tahu tentang hal ini. Bingung mau ngomong apa saat ketemu, tulis lewat surat—sayangnya saya tidak pernah menulis surat cinta :mrgreen: . Mau marah lewat tulisan, boleh. Mau curhat lewat tulisan, bisa….! So? Lets start writing.

~to be continue (may be)

*Ilmuwan tersebut berdarah Arab bernama Ali anak Abi Tholib. Ali sudah menjadi ilmuwan semenjak beliau remaja dan menjadi pemimpin negara ketika telah dewasa.

—————————————

Tulisan yang berhubungan:

Posted in inspirasi, opini, semangat Tagged: menulis

Mengejar Beasiswa (4) : Ford Foundation dan Australian Development Scholarship

Setelah gagal BGF Prancis, lalu apa lagi usahaku? Bulan Agustus 2008, aku dapat informasi tentang beasiswa Ford Foundation dan Australian Development Scholarship (ADS). Ford Foundation menawarkan beasiswa buat kuliah di seluruh dunia. Sedangkan ADS di Australia. Dari beragam informasi, ADS punya jatah 300 orang per tahun. Jatah beasiswa terbesar untuk Indonesia. Maklum, Indonesia punya posisi strategis [...]

STA??!! Sudahlah jalanin aja..

hahaha.. udah lama gak buka page ini.. ehh ternyata tulisan terakhir gue tentang STA alias sindrom tingkat akhir. Udahlah,, gak mau terbebani banget dengan STA. yang jelas hari ini gua beres “menyudahi” satu UAS “ujian agak serius”. masih ada hari selasa, ujian tulis dan ujian praktikum; rabu, ujian praktikum dua mata kuliah; kamis, my last [...]

Permen 2.0



Wow, bayangkan permen yang enak diemut sekaligus bisa dikustomisasi dan menjadi social media. Imagine the possibilities. Bisa jadi cara nembak baru, contekan, sampai mencatat to do list dan daftar belanjaan.

Facebook is my second wife


Facebook is my 2nd wife

“Facebook istri kedua gw.”

“nyang bener lo? Jadi lo poligami?”

“eh,,, hehe. Iya, mang knape? Daripade nikah siri”

“ck,,ck,, ga papa sie. Tapi awas aja kalo istri loe jadi kaya’ Manohara atawa Cici Paramida gara-gara loe”

“oh, tenang aja bro. insyaAllah gw bisa adil. Gw jamin kage ade kasus kadeerte di tempat gw. Mangkanya dukung esbeye”

“lho? (Apa hubungannya?)”

_________________________

Facebook is my second wife,,,,
blog still my first one.

Posted in things Tagged: blog, cici paramida, facebook, kdrt, manhara, sby

‘Kampanye’ SBY-Budiono di Blogspot.com


sby-mega-jk
Alhamdulillah…, genap sudah 18 hari masa kampanye pilpres (pemilihan presiden) sejak 2 Juni 2009. Dan yang lebih membuat saya bersyukur adalah belum tidak ada kerusuhan.

Dengan semangat 45 membara, para capres membuat jargon-jargon yang persuasif. SBY-Budiono dengan “Lanjutkan!”, JK-WIN mengajak “Lebih cepat, lebih baik”, dan Mega-Pro mengklaim “Mega-Pro Rakyat”. Mereka memasang jargon-jargon itu di berbagai media. Tapi tahukah anda kalau SBY juga berkampanye lewat blogspot.com? Coba simak bukti di bawah ini.

lanjutkan blogspot.com

Kampanye terselubung kubu SBY-Budiono kah? Atau bentuk ketidaksengajaan belaka? Atau malah karena SB-Budiono tahu bahwa banyak kata “lanjutkan” di dunia maya maka beliau berdua memilih “Lanjutkan!” sebagai jargon? :mrgreen:

*Hanya untuk tersenyum saja. :D

Posted in cerita hari ini Tagged: jk, jk-win, lelucon, lucu, mega, mega-pro, pemilihan presiden, pemilu, pilpres, sby, sby-budiono

Andai aku menjadi [volume 1 : calon presiden RI]


Preface

Bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang

Postingan seri “Andai Aku Menjadi” berisi tentang khayalan seorang DLN nu kasep yang semasa kecilnya ga punya cita-cita.

InsyaAllah diri ini akan menyiapkan diri sebagai orang yang berkapasitas seperti presiden dalam 15 tahun lagi. Tapi siapa juga yang mau jadi presiden? Semoga ada yang lebih layak nanti

_________________________

Volume #1 : Andai aku menjadi calon presiden Republik Indonesia

1. Tagline kampanye saya : “Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat” (sorry ngebajak PPSDMS :D )

2. Kriteria orang kedua (wakil presiden) yang saya cari:

a. Soleh(ah) >> biar gw juga ga futur waktu jadi Presiden
b. punya pemahaman ekonomi yang baik >> soalnya gw ga terlalu ngerti ekonomi dan sosial
c. punya basis massa pendukung petani/nelayan/pedagang pasar/rakyat kecil
d. ga perlu kriteria sipil/militer, jawa-luarjawa, dll. “kita ini satu Indonesia, Bung!”

3. Tiga buah Prioritas program yang saya kampanyekan :

a. Pemberantasan korupsi di seluruh sektor pemerintahan (pejabat publik, polisi, BUMN)
b. Pengembalian hutang-hutang negara & Nasionalisasi aset bangsa yang dikuasai asing
c. Reformasi birokrasi

4. Empat Partai politik yang saya prioritaskan untuk berkoalisi : PKS, Demokrat, Gerindra, PAN

5. Lima basis massa yang saya utamakan : blogger & internet user, teknokrat/akademisi, mahasiswa, pendukung anti-korupsi, warga Jakarta & Tangerang

6. Beberapa kebijakan:

a. ekonomi : meminimalisasi produk impor, pengembalian hutang, nasionalisasi aset negara. Bangsa ini harus jadi bangsa yang mandiri, kawan!
b. kominfo & teknologi : pembuatan infrastruktur IT,khususnya internet. Biar internet dapat digunakan oleh banyak orang. Serta program pemberdayaan kreativitas teknologi/science sebagai sumber ekonomi
c. Pendidikan >> harus bisa! Cukup teruskan & melakukan controlling programnya Bambang Sudibyo. Tambahan program pada kurikulum tentang program peningkatan moralitas berbasiskan ajaran agama (metodenya yang interaktif, ga konvensional)
d. hubungan luar : bantu Palestina meraih kemerdekaan dan perdamaian. Kalo engga hajar aja Israel!
e. Hukum >> Rekonstruksi pejabat hukum di Indonesia, terutama yang sudah terindikasi korup. Perbaiki juga penegakan hukum yang masih ga bener (akhir-akhir ini tentang kasus ITE misalnya)
f. administrasi publik : pelatihan karyawan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik (pengurusan administrasi ga bertele-tele, karyawan murah senyum, ga korup, dll)
g. Energi >> segera mengusakan adanya PLTN di Kalimantan dan Jawa
h. Pariwisata >> tutup tempat maksiat di lokasi pariwisata (misal beberapa yang ada di Bali, pulau 1000, dll). Pariwisata Indonesia jangan melupakan moralitas
i. Agama >> bagi yang muslim kudu ngaji rutin bulanan

7. Jika saya menjadi capres 2009, maka beberapa orang penting yang akan saya beri jabaran yang sudah terpikirkan adalah sebagai berikut:

a. Menteri Ekonomi : Sandiaga Uno
b. Menteri Pendidikan : Anies Baswedan / Musholli
c. Menteri BUMN : I Dewa Gede Raka / Jusuf Kalla
d. Menkokesra : Prabowo Subiyanto
e. Menteri RisTek : Kusmayanto Kadiman / Warsito
f. Menteri agama : Hidayat Nur Wahid / Din Syamsudin
g. Menteri sekretaris negara : Hatta Rajasa
h. Menteri pertahanan : Djoko Santoso
i. Menteri Pertanian : Megawati S.P.
j. Menteri komunikasi dan informasi : M. Nuh / Budi Rahardjo
k. Menteri pemuda dan olahraga : Adhyaksa Dhault
l. Juru bicara kepresidenan : Tina Talisa
m. Menteri pemberdayaan perempuan : -
n. Menteri kesehatan : -
o. Gubernur BI : Sri Mulyani

Sekian dulu,,,,,,

Posted in auto-post, serial Tagged: Indonesia, jikaakumenjadi, presiden

Bias Informasi, Mitos atau Fakta?


Hasil Pencarian dengan kata kunci "Pangeran Malaysia Menculik Manohara"

Hasil Pencarian dengan kata kunci "Pangeran Malaysia Menculik Manohara"

Apa yang kamu lakukan ketika butuh data untuk tugas? Saya yakin, sebagian besar mahasiswa akan menjawab, “Googling!”.

Lalu, kalau google tidak berhasil memberikan data yang diminta, apa jawabnya? Tebakan saya, para mahasiswa tersebut akan menjawab, “Data tidak ditemukan Pak.”.

Bahkan mungkin ada yang menjawab, “Datanya tidak ada Pak.”.

Mahasiswa sekarang tidak kenal dengan yang namanya perpustakaan. Butuh data, ya googling. Kalau Internet “bilang” tidak ada maka data tersebut benar-benar dianggap tidak ada. Padahal, tahukah kamu bahwa Internet itu seperti papan informasi raksasa yang semua orang boleh memasang informasi di sana.

Keterbukaan Internet dalam ‘menerima’ semua informasi tanpa disaring terlebih dahulu melahirkan fenomena bias informasi. Secara sederhana, bias informasi bisa dimaknai ketidakjelasan nilai informasi, entah informasi itu benar atau salah, penting atau tidak, serta relevan atau tidak.

Sebagai contoh, tulisan saya tentang Manohara berhasil menempati peringkat pertama* pada google untuk kata kunci (keyword) “pangeran malaysia menculik manohara” dan “malaysia menculik manohara” (tanpa tanda petik). Padahal kawan, isinya sama sekali tidak berhubungan dengan Manohara Pinot. Coba saja googling dengan kata kunci tersebut dan lihat isi tulisan saya.

Hasil Pencarian dengan Kata Kunci "malaysia menculik manohara"

Hasil Pencarian dengan Kata Kunci "malaysia menculik manohara"

Sudah dicoba? Masih menggantungkan sumber referensi pada google atau mesin pencari lain? Masih percaya penuh pada Internet? Bila jawabannya iya, saya sarankan Anda untuk berpikir kembali :D . Semoga bermanfaat.

*saya tes pada tanggal 16, 17, dan 18 Juni 2009 menggunakan firefox laptop saya.

Posted in opini, teknologi informasi Tagged: bias informasi, google, googling, informasi, internet, mahasiswa, manohara, teknologi informasi

MELANGKAH PASTI


Bocah itu tumbuh dan mempertontonkan keberadaannya
dihadapan khalayak tanpa ragu berkata,
“Aku ingin mengubah dunia”
seluruh jagad kelam tak bersuara
mengiyakan atau mengingkari fikirnya
selintas hanya membersit, tertinggalkan pijar di angkasa

……………………..……………………..……(silahkan dilengkapi)
ia terus melangkah meniti cahaya
walau lama itu adanya
belaian kasih ia harap namun tak bersapa
hanya sendiri, kosong tak bertuan bagaimana
lenyap asa khn terbujur, terkubur bila esok tiba
……………………..……………………..……………………..…….(silahkan diisi sesuai dengan hati)
kenyakinan menghampiri diri
jiwa bersiap berlakon sandiwara
memainkan skenario dalam panggung sutradara
ciptakan bahagia hindari sengsara
menuntut kebijaksanaan, menuju paripurna
angan melambung, fokus keinsanan terlewati
bersama harapan yang kembali menggema
……………………..……………………..……………………..……….(Apa kata imaji?)
makhluk hanya mengabdi dan mensyukuri
menghadirkan ridho Illahi
demi menggapai negeri masa depan dengan pasti
karena inilah yang kita nanti

SEMESTA JIWA


Duniaku perlahan berganti
malam kian sering menemani
terkadang mereka seperti ingin berbicara pada diri
isyarat fikir seakan ragu menjalani ini

namun.. pusaran itu seakan kuat mendorong
Aku masuk dan bersyukur tidak terlalu lama mencari
awalnya menjadi kegelisahan tak terasa
namun mengemuka karena tawa dan duka menyapa

Jasad bersama jiwa berseru
menjawab setiap langkah yang terukir
kalbu dan fikir tetap setia
menjawab imajinasi yang liar berlari

Semua bersandar pada angin yang berhembus hampa
tiada hangat menyelimuti dalam teduh purnama
Ini berbeda dan tak biasa
hingga mampu mengungkapkan sukma seorang pengembara
siapa, apa, dan bagaimana hidup yang telah tercipta olehNya

Aku butuh kehangatan dari kedua sisi
untuk kembali merajut mimpi abadi
mengubah dan memperbaiki bumi
bersama semua pribadi yang percaya Ridho Illahi

Lenyap asa kan terbujur…terkubur bila esok tiba
Aku terus melangkah meniti cahaya
walau lama tetapi itu adanya
hanya sendiri, kosong tak bertuan….bagaimana

PS : Untukmu bidadari bermata jeli…

UNTUKMU JOGJAKARTA, BAGIMU INDONESIA..PERSEMBAHANKU UNTUK DUNIA DAN SEMESTA KITA


Khadijah bersama Rasulullah mengubah dunia
Fathimah menemani Ali mengasah Pena
Obama punya Micchele untuk merawat Amerika
Hatta bersama Siti Rahmi melepas senja

Tapi, aku juga mengenal Balqis hingga Khaleda Zia
Mereka begitu perkasa dan digdaya
Tiada kuasa ..aku terpedaya pesona mereka
Kenapa kita tidak bertanya…saat mereka berbeda?
Ini realita…fakta! bukan fatamorgana!

Butuh banyak Megawati dan Indira Gandhi untuk Indonesia baru
Memastikan Mikail tersenyum di ufuk biru
Hati berseru menjemput jiwa yang rindu
Menyambut pelita yang terharu bisu

Pengabdian Rumi dan Gibran seakan tak pernah berhenti
Menapaki cinta illahi yang tak bertepi
Aku semakin mengerti dan memahami
Artinya hawa untuk siapa
Maknanya Adam bagaimana

Aku percaya di sana ada sepasang bidadari dan bidadara menunggu kita
Menyapa dan sedang berusaha mengantarkan syurga
Siapapun dia…

AWAL TERINDAH


Masa bergelut dengan jiwa
melantunkan sajak dalam kata
menyatu…dan berbuah makna
mengubah paradigma tentang kita

awal indah tuk cinta seorang hamba
kepada hawa…sang pujaan damba
cintanya bertahta dan bertitah bangga
bahwa ia ingin bersama
Aku dan Dirinya

Keluh kesah, suka ataupun duka
membuat kita utuh menjadi manusia,
untuk saling mencinta..selamanya

Aku ingin memetik sakura, saat ia harus bersemi dekat Fujiyama
tapi tulip begitu indah menawarkan pesonanya
walau tak mampu memungut edelwis di puncak sana
ingin kuungkap saja…bahwa pujangga hanya punya kata

tanpa sakura…tulip..apalagi edelwis..aku tetap maju menjemputnya
bukan untukku…apalagi untuknya,
karena ini… sudah cinta yang bicara
itu saja

“MENYAMBUT SANG PEMIMPIN”


Peluang menjadi manusia terbaik ternyata semudah mimpi hadir ketika tidur. Semuanya kembali kepada kemauan, tekad, dan semangat agar hidup tetap memiliki nilai tambah dan selalu bermakna. Banyak di antara kita, khususnya generasi muda kurang menyadari potensi dirinya. Padahal optimalisasi peran kaum muda di masa mendatang menjadi penting, mengingat mereka-lah generasi penerus bangsa ini. Kesadaran tentang realitas ini perlu dibangkitkan demi memberikan sebuah harapan baru tentang masa depan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Rakyat sudah cukup lama mengalami penderitaan, keterbelakangan, dan keterpurukan dalam hidupnya. Tugas dan tanggung jawab kaum muda-lah akhirnya untuk memastikan harapan tentang masa depan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat tidak hanya sekedar wacana atau mimpi belaka.

Dengan kondisi demikian perlu dipersiapkan beberapa hal penting oleh generasi muda, Pertama, kompetensi, semua wacana perubahan yang ditawarkan oleh kaum muda di masa mendatang, harus berbasiskan kompetensi. Kompetensi lahir dari aktivitas intelektual dan pengabdiaan ilmu kepada masyarakat. Selain membuktikan bahwa generasi muda sebagai aktor utama yang menggerakkan perubahan, mereka diharapkan juga mampu berperan sebagai problem solver secara konsisten. Berfikir atau menganggap ada pihak lain yang akan melakukan pertanggungjawaban seperti ini, seringkali justru menghambat proses perubahan dan realisasi aksi riil, karena masing-masing pihak lebih cenderung saling mengharapkan. Intinya, lakukan! selagi kita mampu dan jangan pernah menunda pekerjaan bila itu menyangkut hak rakyat.

Kedua, manajemen diri. Tidak ada kesuksesan tanpa disiplin. Menjadi yang terbaik, membutuhkan pengorbanan ekstra dan dedikasi yang berkesinambungan. Bagaimana mengelola waktu, membagi peran terhadap aktivitas yang dimiliki, merespon kewajiban, dan menjawab tantangan yang dihadapi. Tanpa pengelolaan diri yang baik, secara otomatis generasi muda akan sulit menjadi bagian dari masa depan dan solusi bangsa ini.

Ketiga, Integritas. Point ini sangat penting dalam menunjang kredibilitas. Apapun prestasi yang sudah dipersembahkan, tidak ada artinya bila diri belum mampu terkendali dengan baik. Aspek integritas relevan dengan moral dan kepekaan. Tentu untuk menghadirkannya, intensitas interaksi dengan realitas menjadi urgen mengingat di sanalah proses integrasi integritas melekat dalam diri.

Keempat, sinergi. Sehebat apapun diri ini, jejaring tetap dibutuhkan untuk membuat visi ideal kita tentang rakyat, Indonesia, dan dunia terealisasi dan mudah dipahami. Aktivitas di organisasi, komunitas serta pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi semakin penting dalam membangun jejaring. Hal ini demi menjamin interkonektivitas jejaring dengan segala dunia, baik nyata maupun maya. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi saat ini menghantarkan pada sebuah fase, di mana kerjasama tidak hanya dilakukan sebatas hubungan diplomatik antar negara, namun, sudah melampaui pada tahapan personal

Prestasi apapun yang ingin kita raih akan terwujud bila mampu menghadirkan keempatnya secara konsisten di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Generasi muda akan tampil menjadi figur alternatif yang menjanjikan di masa mendatang, karena memiliki kejelasan pribadi, profesionalisme sikap, dan kemampuan yang tidak diragukan. Tanpa rasionalisasi dan alasan yang konkrit, sangat sulit bagi siapapun menolak generasi emas ini berkontribusi membangun Indonesia kita.

RENDAHNYA ETIKA ELITE BERPOLITIK


“Mu’min yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya”
(H.R. Tirmidzi)

Mengamati aktivitas politik melalui sebuah pendekatan keilmuan menjadi keniscayaan dalam membedah secara obyektif sebuah fakta. Sebagai pihak yang menerima efek dari perilaku dan kebijakan elit, masyarakat memiliki peran strategis dalam mengevaluasi setiap realitas yang terbentuk. Bayangan tersebut secara intens memberikan harapan bagi tegaknya aturan yang mampu menghadirkan keadaan yang lebih baik di masa mendatang

Menurut kaum Pluralis, negara merupakan ranah interaksi yang relatif otonom, di dalamnya berinteraksi banyak aktor yang terfragmentasi. Masing-masing aktor memiliki akses ke dalam negara dengan intensitas dan kapasitas yang berbeda-beda. Oleh karena itu, interaksi antar institusi pemerintahan terbentuk berdasarkan pembagian kekuasaan. Kehadiran eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai produk utama dari Trias Politika, menjadi gambaran konkrit bagaimana secara substansial sistem mengelola segala sumber daya bangsa untuk mensejahterakan rakyat. Tidak sebatas itu, masing-masing aktor juga menjalankan fungsi checks and balances, untuk membuktikan profesionalisme kerja di ranah masing-masing.

Sebagai perbandingan, di masa Rasulullah dahulu, kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan Islam dari para pemimpin suku Aus dan Khazraj yang berkuasa atas kota Madinah (Yastrib). Setelah Rasulullah wafat, para tokoh kaum Ansar dan Muhajirin akhirnya memutuskan Abu Bakar sebagai kepala negara. Begitu seterusnya, hingga masa kekhalifan Ali bin Abi Thalib. Yang menarik, ketika khalifah Umar bin Khattab menjelang wafat, beliau menunjuk sejumlah sahabat senior seperti Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqash untuk memilih di antara mereka siapa yang akan menggantikan beliau.

Abdurrahman bin Auf mengundurkan diri dari pencalonan dan bertindak sebagai panitia pemilihan. Lalu disepakati oleh ketujuh orang yang hadir dalam majelis tersebut pencalonan Ali dan Usman sebagai calon khalifah. Abdurrahman mengambil suara seluruh penduduk Madinah yang sudah baligh hingga akhirnya Usman dibaiat sebagai khalifah. Dari kisah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pemilu untuk mengangkat khalifah baru pengganti khalifah lama yang wafat atau dipecat adalah persoalan teknis untuk melaksanakan kewajiban mengangkat khalifah sebagai ulil amri atau kepala negara. Dalam hal ini, dibolehkan calon khalifah dipilih oleh wakil umat yang ada, hanya saja keputusannya ditentukan oleh sidang majelis umat yang merupakan perwakilan seluruh umat dari seluruh negeri.

Perlu dijelaskan, meskipun anggota majelis umat yang dipilih dari seluruh negeri dapat juga dari kalangan non muslim (ahlu dzimmah), namun yang berhak untuk mengajukan dan menetapkan calon khalifah hanyalah anggota majelis umat yang muslim. Hal ini sesuai dengan ayat di bawah :

Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan RasulNya, dan Ulil Amri di antara kamu…..(QS. An Nisa 59)

Perintah menaati ulil amri dalam ayat di atas mengandung perintah untuk mengadakan ulil amri dari kalangan kaum muslimin yang taat kepada Allah dan Rasul serta menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar menjalankan pemerintahan.
Kepala negara dalam sistem pemerintahan Islam tidak dibatasi masa jabatan lima tahun lalu dipilih kembali seperti dalam sistem dalam sistem demokrasi. Tapi dia bisa menjabat sampai akhir hayat selama menjalankan pemerintahan sesuai syari’ah. Bisa dipecat sekalipun baru dua bulan menjalankan amanahnya bila tidak memenuhi syarat atau ditangkap musuh ketika berjihad. Oleh karena itu, tidak ada pemilu lima tahunan untuk memilih kepala negara.

Konteks Ideal Hari ini
Titik kompromi mesti dicari ketika kondisi hari ini jauh berbeda dari idealita yang kita bayangkan. Hal ini penting, mengingat umat belum cukup dewasa menjalani tahapan ideal tadi. Sebuah keniscayaan melalui fase ini secara bertahap demi perubahan yang hakiki. Kesabaran, pengorbanan, keikhlasan merupakan bagian yang tak bisa dihindari untuk merealisasikan tatanan Islam di negeri ini. Hal itu dapat dicermati, ketika konteks pemilu hadir di tengah-tengah kita. Perilaku aktor maupun masyarakat menarik untuk dipahami sebagai bagian proses pendewasaan dan pendidikan politik. Bahasannya mulai dari isu ideologis, sistem ekonomi (baik itu kerakyatan ataupun neolib), etnisitas/primordial, hingga fisik. Semuanya berlomba-lomba mengklaim sebagai representasi umat yang memiliki keberpihakan.
Sekilas memang benar. Tetapi bila ditelusuri lebih jauh, kinerja pemerintah sepanjang lima tahun yang lalu, kiranya anggapan ini sulit diterima akal sehat. Bukti-bukti riil menunjukkan bahwa pemerintah sepanjang 2004-2009, kurang mampu menunjukkan kualitasnya. Banyak masalah yang dihadapi, ternyata tidak mampu menghadirkan alternatif kebijakan yang sifatnya out of the box. Semuanya masih saja dihadapi dengan logika konvensional. Mulai dari kenaikan BBM, Lapindo, Hutang Luar Negeri, Kontrak Karya dengan perusahaaan-perusahaan multinasional, hingga Mega Korupsi BLBI dan kroni-kroni Soeharto, adalah sederet catatan kelam kinerja pemerintah di masa lalu
Ketika hari ini elit yang masih menjabat sibuk mendeklarasikan dan mempromosikan diri, sebenarnya, tanpa disadari sudah terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Secara normatif, itu tidak melanggar hukum, namun, etikanya, mereka terbukti menodai citra suci figur seorang pemimpin. Kondisi ini bukan mengada-ada, namun berbasiskan realitas dan fakta empirik dimana amanah yang masih melekat kurang signifikan mereproduksi perubahan. Kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan berbagai bentuk bahasa keterbelakangan lainnya terus meningkat bersamaan dengan harga-harga kebutuhan pokok. Ini menyakitkan, bagi ‘orang-orang malang’ tanpa masa depan. Bagi mereka, negara adalah Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri di negeri ini semakin ‘lenyap’, karena peran negara yang tidak mampu mensejahterakan. Elit telah melecehkan kepercayaan yang dibangun oleh rakyat dan kehinaan ini akan terus berlanjut karena elit berperilaku tanpa etika. Menanti komitmen berubahnya perilaku ini, Seakan hanya mimpi, bila penegakan hukum tidak sinergis dengan etika.
Oleh karenanya, tidak cukup aturan hukum (rule of law,) yang menjangkau keadaan demikian. Ke depan, seperti yang sering diungkapkan Prof. Jimmly Asshidiqie, sangat urgen etika (rule of ethics) sebagai panduan elit berperilaku dalam penyelenggaraan negara. Etika menjadi basis utama untuk membuat sistem bisa bekerja optimal.

Menegakkan Rule of Ethics
Secara historis, etika sebagai usaha filsafat lahir dari keambrukan tatanan moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2500 tahun yang lalu. Karena pandangan-pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi dipercayai, para filosof mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan manusia. Frans Magniz Suseno mengungkapkan, bahwa Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikir, memecahkan masalah, bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma, dan pandangan-pandangan moral. Etika membantu kita agar tidak kehilangan orientasi, walaupun etika memang tidak dapat menggantikan hukum. Namun, keduanya saling melengkapi terkait dengan interpretasi perintah maupun pembahasan terhadap masalah-masalah moral yang baru, yang tidak langsung dibahas dalam agama.
Penegakkan etika bagi kita umat Islam, sebenarnya tidak cukup hanya berlandaskan nurani (antropoisme) tetapi perlu di akumulasi dengan basis syariat (teologis), agar sintesisnya mampu membuktikan bahwa manusia merupakan produk dari hasil kreasi metafisis Tuhan. Holisitisitas pemikiran ini menjadi bagian fundamental bagi semua pihak dalam berperilaku. Orientasi kita ‘berkuasa’ tidak hanya sebatas untuk hari ini di dunia, tetapi bisa menjamin bahwa ‘berkuasanya’ kita mampu menyelamatkan umat dan diri ini sampai ke Yaumul Akhir nanti.

Etika dan Anak Muda
Etika tidak hanya menjadi tanggung jawab ‘penguasa lapis atas’, namun yang merasa ‘dikuasai’ memiliki peran yang sama untuk memeriksa derajat kualitas etika yang terlaksana. Jangan dibayangkan bahwa di masa muda, kondisi ‘tidak beretika’ hilang, justru ketika di masa inilah, banyak di antara kita mungkin menerima atau memiliki peran untuk ‘berkuasa’. Inkonsistensi, ambivalensi, kontradiksi menjadi hal wajar dan tidak terlalu tabu untuk diterima sebagai konsekuensi. Kita sedang memasuki budaya serba boleh (permisif) yang cukup masif sehingga dikhawatirkan akan menghilangkan identitas umat sebagai muslim dan bangsa sebagai Indonesia. Wallahualam Bisshawab.

http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/agung-baskoro-rendahnya-etika-elite-berpolitik.htm

Solusi Hemat Rantang Merah


Salah satu yang terasa beda setelah pulang dari Bandung adalah masalah makan :) Di Bandung, bisa dibilang kesempatan untuk wisata kuliner setiap kali makan, gratis pula. Setelah di Jakarta, tentunya kebiasaan tersebut ngga bisa diteruskan karena bisa berbahaya buat kesehatan kantong.

Mencari makan siang yang lumayan enak, bersih, dan terjangkau di wilayah SCBD termasuk cukup sulit. Ralat, gampang sih sebenarnya. Yang bikin sulit adalah parameter berapa ongkos maksimal yang mau gue keluarkan untuk keperluan makan ..hehehe. Dulu sebelum ke Bandung, tempat makan favorit gue adalah kantin di tempat parkir gedung S.Widjojo. Cuma membayar Rp 9000. kita bisa mendapatkan paket nasi+sayur+lauk utama+lauk tambahan. Sayangnya, gak tahu sejak kapan kantin itu sekarang sudah dibongkar.

Untunglah, solusi masalah makan siang gue datang dalam bentuk rantang merah. Gak tahu sejak kapan juga, sekarang ada ibu2 datang menawarkan katering yang dijual dalam rantang plastik merah. Paket nasi+sayur+lauk utama+lauk tambahan bisa didapat dengan Rp 9000. Tambah 2000 lagi kita bisa dapat seplastik besar krupuk dan sebuah pisang. Murah kan ? Wajar aja rantang merah ini jadi komoditi yang laku keras, seperti ditunjukkan gambar oknum2 berdasi yang sedang makan siang berikut.

Andai aku menjadi [volume 2 : tahanan/orang yang dipenjara]


Bermimpilah sebelum bermimpi itu dilarang

Preface:
Akhir-akhir ini banyak orang tidak bersalah (menurut saya) yang ditangkap dan dipenjarakan. Beberapa orang terkait kasus ITE (mbak Prita misalnya), salah tuduh/fitnah dari polisi (yang ini banyak. Misalnya “dipaksa” oleh polisi mengaku sebagai pembunuh), baru tersangka tapi udah ditahan (antasari), diuber-uber FBI (misalnya karena gw di”cap” teroris sama US), dll. Bisa jadi saya juga dipenjara karena alasan-alasan tersebut. Lantas apa yang akan saya lakukan jika dipenjara?

____________________________

Volume #2 : Andai aku menjadi tahanan

  • Saya akan meminta izin/keringanan agar dapat berinternet dalam penjara. Atau seberat-beratnya dalam seminggu minimal sekali berinteraksi di dunia maya
  • Saya akan banyak menulis. Terinspirasi dari Sayyid Qutb, Dr. Hamka, dll yang menulis karya-karya luar biasanya di balik jeruji besi. Entah menulis buku, kitab, puisi, postingan blog, atau update status facebook (apa coba?)
  • Saya akan meminta ada guru ngaji. Biar gw tobat seselesainya hukuman, bukan tambah bandel
  • Saya meminta berada di ruangan penjara berukuran 4×3, full AC, kamar mandi di dalem. (poin yang ini bercanda :D )
  • Saya meminta disediakan TV 21”, springbed, shower, kulkas, serta seperangkat alat sholat dibayar tunai. (ga serius lagi. hehe)
  • Kalo boleh ada supply buku bacaan. Silahkan ambil kasur/kursi dalam penjara sebagai kompensasi, I don’t need those things. Oia, saya juga minta penerangan untuk malam hari.
  • Saya akan cari kesempatan meliqokan tahanan lain
  • Kalo di penjara saya nemu tahanan kasus korupsi, saya jewer kupingnya
  • Saya akan menulis di tembok tahanan : “dhimaskasep was here

Sekian dulu,,,
(volume 1 nya diposting ntar. dalam tahap pengeditan)

Posted in serial Tagged: kasus, penjara, tahanan

Nasib Pengadilan Korupsi

Published by KOMPAS on 17 June 2009 link : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/17/0256524/nasib.pengadilan.korupsi Nasib pengadilan tindak pidana korupsi berada di ujung tanduk. Usianya tinggal beberapa bulan, berakhir 19 Desember 2009, sesuai tenggat waktu yang diberikan MK tahun 2006. Namun, lonceng kematiannya bergema 30 September 2009 saat DPR periode 2004-2009 berakhir. Hal itu akan berdampak serius terhadap proses pemberantasan korupsi. Pemeriksaan [...]